«

»

TUGU JOGJA: Belum ke Jogja Kalau Tidak Menyentuhnya

 

 

Suasana perempatan Tugu tahun 1935 Sumber: http://media-kitlv.nl

Suasana perempatan Tugu tahun 1935
Sumber: http://media-kitlv.nl

Tiap malam sekira lebih dari jam delapan malam, muda mudi selalu mengerumuni Tugu Jogja yang dikenal sebagai “Center of Jogja”. Mereka tampak sangat antusias mengabadikan momen kumpul dan kongkow bareng sohib di tempat yang amat bersejarah ini. Tugu Jogja semua telah mengetahui jika “Tidak sah berada di Jogja tanpa menyentuh Tugu Jogja atau Pal Putih”.

Tugu Jogja memiliki sejarah yang panjang mulai berdirinya, makna filosofi yang mengikutinya, bergantinya tinggi dan bentuknya akibat gempa bumi dahsyat. Semua itu dirangkum dalam penelusuran Redaksi Santap Jogja melengkapi artikel kuliner Jogja. Wisata kuliner akan terasa punya bobot gizi jika kita tahu sejarah Jogja.

GOLONG GILIG

Sebagai raja yang mengayomi rakyatnya, Sultan Hamengku Buwono I agaknya paham jika sebuah simbol akan memperkuat ikatan antara warga dan dirinya. Usai Perjanjian Giyanti pada 1755, terbentuknya Kasultanan Yogyakarta yang terpisah dari Kasunanan Surakarta, Sultan memerintahkan abdinya untuk membangun Tugu Golong Gilig.

Bangunan ini terletak di sebuah perempatan dari empat jalan besar yaitu:
– Jalan Pangeran Mangkubumi (Selatan),
– Jalan AM. Sangaji (Utara),
– Jalan Jenderal Sudirman (Barat),
– dan Jalan Pangeran Diponegoro (Timur).

Tugu Golong Gilig memiliki tinggi 25 meter dengan tiang berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya golong (bulat). Makna dibangunnya tugu ini sebagai simbol “manunggaling kawula Gusti” yaitu tekad bulat dan kebersamaan dari penguasa yakni Sultan dan rakyatnya melawan penjajah dan kesatuan hubungan manusia dan Sang Pencipta.

Pula berkembang keyakinan jika Tugu Golong Gilig merupakan garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Jogja, dan Samudera Hindia. Di sini dapat diartikan jika rakyat Jogja bersama sang Raja hidup berdampingan lewat pikiran, perasaan, dan perbuatan secara seimbang dengan alam raya.

PAL PUTIH

10 Juni 1867, gempa hebat mengguncang Jogja meluluhlantakkan seisi kota dan meruntuhkan Tugu Golong Gilig. Musibah ini menewaskan ratusan warga Jogja yang membuat kota lumpuh beberapa hari untuk melakukan perbaikan di berbagai infrastruktur. Pemerintah Belanda yang dipimpin oleh JWS Van Brussel lewat Opzichter Van Waterstaat atau Kepala Dinas Pekerjaan Umum melakukan renovasi dalam pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V terhadap Tugu Golong Giling pada 1889.

Namun renovasi tugu berubah total karena bentuknya yang berubah tidak lagi silinder-bulat melainkan bangunan setinggi 15 meter dengan persegi di bagian badan dan runcing di puncak tugu. Tiap sisi bangunan berhias prasasti yang menyimbolkan siapa saja yang berperan dalam renovasi ini. Sri Sultan Hamengku Buwono VII meresmikan Tugu Putih atau De Witt Paal, sebutan baru untuk Tugu Golong Gilig, pada 3 Oktober 1889.

Tugu Pal Putih, trademark Jogja

Tugu Pal Putih, trademark Jogja

FOTO FOTO REMAJA

Tugu Pal Putih kini tak pernah sepi dari para pengunjung yang kebanyakan para remaja untuk berfoto ria. Beberapa bulan yang lalu, kita bisa berpose sangat dekat dan intim dengan tugu dengan naik naik ke tubuhnya. Namun ini membuat tugu kotor dan tidak cantik lagi. Oleh karena itu, pihak pemerintah Jogja melakukan perawatan dengan membuat taman yang mempercantik dan memberi radius sekira dua meter agar para remaja tidak menaiki tugu sehingga kebersihan dan keelokannya tetap terjaga.

Bagi Santap Jogja yang ingin menikmati Tugu Pal Putih, sila meluncur ke lokasi dan jangan lupa ada wisata kuliner di sekitar situ seperti Gudeg Tugu, Gudeg Mercon, dan masih banyak lagi kuliner Jogja yang siap memanjakan lidah dan perut Anda!

Salam santap kuliner Jogja!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>