«

»

SOP AYAM PAK MIN KLATEN: Kenapa Spanduknya Warna Hijau Pupus?

~Kenapa Spanduk Warung Terkenal itu Berwarna Hijau Pupus?~

pak min

 

Sop Ayam Pak Min telah melegenda selama 50 tahun dan menyebar ke seantero negeri. Kota kota besar seperti Jakarta, Solo, Semarang, Ungaran, Boyolali, juga Jogjakarta dirajai oleh warung sop ayam yang punya ciri khas spanduknya berwarna hijau pupus itu. Kaldu ayam dan potongan ayamnya yang gurih sedap membuat penggemarnya berduyun duyun hadir untuk mencicipinya.

YANG SPESIAL DARI si PAK MIN

Suasana spesial Warung Sop Pak Min Klaten bukan dari kemegahan bangunannya. Tapi kesederhanaannya. Bangku bangku panjang terpajang bersama gerobak tempat meracik sop ayam.

Para pegawai sigap memotong motong ayam kampung dan menyiraminya dengan kuah kaldu panas di mangkuk. Selanjutnya mereka menyajikan dengan cepat ke pelanggan.

Harganya bagaimana, Santap Mania? Murah sekali mulai dari Rp. 5.000 untuk nasi sop ayam sampai dengan Rp. 15.000 untuk nasi sop dada pecok.

KENAPA SPANDUKNYA WARNA HIJAU PUPUS

Redaksi Santap Mania penasaran dengan kenapa spanduk warung Sop Ayam Pak Min di mana mana berwarna hijau pupus. Tentu bukan karena Nyi Roro Kidul. Di sela kesibukan salah satu peracik sop, ia menjelaskan jika warna hijau pupus dengan tulisan merah menjadi khas warung Pak Min Klaten karena orang akan dengan mudah mengingat ciri khasnya.

DI MANA DI JOGJA?

Ada beberapa tempat yang bisa Anda kunjungi untuk menyantap rasa hebat Sop Ayam Pak Min Klaten. Berikut nama jalan yang bisa Anda susuri.

~Jl. Kaliurang Km 5,
~Jl. Raya Wonosari Km 7,
~Jl. Loano Wirosaban,
~Jl. Sagan Timur,
~Jl. Mataram nomor 42,
~Jl. Seturan
~Jl. Magelang, Selokan Mataram

2 comments

  1. Marniatun Labang

    Sup Ayam Pak Min ada juga di Jalan Prof Herman Yohanes Sagan. Saya pernah juga di Malang ketemu Sup Ayam Pak Min di Jalan Hamid Rusdi dan Jalan Gajayana Malang. Tetapi yang di Jogja lebih enak dibandingkan dengan yang di Malang.

    1. santapjogja

      Sup Ayam Pak Min memang sudah merambah ke berbagai daerah, di Jakarta pun juga ada. Namun dari tingkat keramaian memang yang di Jogja lebih rame. Kalo untuk rasa sih tergantung selera masing-masing

Leave a Reply to Marniatun Labang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>