«

»

SAOTO BATHOK MBAH KATRO: Segarnya Makan Soto Dalam Bathok di Tepi Sawah

B7Si93JIgAAWDde.jpg largeRedaksi SantapJogja.com selalu melaporkan spot kuliner Jogja yang unggul baik dari segi rasa, konsep penyajian, melalui reportase menarik hingga Santap Mania terpancing untuk bertandang ke lokasi tersebut secepatnya. Sebuah kebanggan jika Santap Mania sebagai pecinta budayadan kuliner Jogja merasa puas dengan apa yang redaksi sampaikan. Datang ke Jogja, resapi keindahan budaya dan pariwisatanya, cicipi kedahsyatan kulinernya, dan pulang bercerita pada sanak kadang di rumah agar mereka suatu saat bergantian ke kota budaya ini.

Waktunya menyajikan berita kuliner Jogja. Dapat berita bagus apa, ya?

SAOTO atau SOTO?

Lepas menikmati kemegahan Candi Sambisari di daerah Kalasan, tak buru buru redaksi balik Jogja. Bau baunya, ada kuliner yang musti redaksi sikat untuk mengisi perut yang meronta ronta. Sejauh mata memandang ke arah Utara, terdapatlah saung saung di antara hamparan hijau sawah yang menenangkan mata. Apakah gerangan saung yang sepertinya menarik ditandangi?

Ternyata warung makan! Bukan tempat para petani beristirahat setelah lelah mencangkul tanah di sawahnya. Warung Saoto Mbah Katro sebutan saung makan ini. Katro alias Ndeso aka kampungan itukah?

Eit, jangan sinis dulu dengan nama warung khas saung ini. Nama beken ini sengaja pemiliknya pilih untuk menarik simpati para pengungjung. Mbah Katro dahulu karyawan hotel. Karena bosan dengan rutinitas yang meletihkan, ia memutuskan buka warung saung dengan memanfaatkan sawah miliknya yang ia sulap jadi sekarang ini yang banjir pembeli. Hebat bukan?

Lalu redaksi iseng bertanya pada pelayan warung apakah mereka salah memberi nama saoto harusnya soto?

Ternyata, penyebutan saoto merupakan khas daerah Solo daerah asli racikan ini. Tuntas sudah deh rasa penasaran redaksi SantapJogja.

RASA WAH DI SAWAH!

Tampak pemandangan yang memukau dan menenangkan jiwa karena hijau sawah di saung saung warung makan Saoto Mbah Katro ini. Bagi Santap Mania yang mengajak keluarga dan anak anak dapat memanfaatkan mainan berupa jungkat jungkit dan lainnya yang terbikin dari bambu. Sangat pedesaan.

Langsung redaksi SantapJogja memesan saoto andalan Mbah Katro. Apa benar kelezatannya paten dan memelintir lidah saking enaknya? Tanpa menunggu lama, pesanan datang.

Wow, penyajian yang unik karena mangkuknya terbuat dari batok alias tempurung kelapa. Usut punya selidik, batok memiliki fungsi mengurangi tingkat sakit perut karena kandungan karbonnya sehingga jika dituangi kuah panas akan bereaksi bagus untuk alat pencernaan.

Kuahnya cokelat menggoda, nasi tenggelam dengan hiasan tauge, seledri, bawang goreng. Sambal terpisah dan tempe garit yang kriuk menyandinginya. Satu sendok, sruput dan segar banget terasa di lidah. Kombinasi rasa gurih, pedas, dan manis dengan rempah yang pas mampu menggoyang lidah. Tanpa terasa, badan mengucur keringatnya. Fantastis sekali rasanya.

soto-bathok-1.11BAGAIMANA MENUJU LOKASI?

Lokasi Warung Saoto Bathok Mbah Katro cukup mudah ditempuh dengan patokan jalan menuju Situs Candi Sambisari. Bila kurang paham dengan Situs Candi Sambisari bisa tanya-tanya penduduk di sekitar Jalan Solo dekat dengan Bandara Internasional Adi Sucipto. Dari Situs Candi Sambisari, letak Warung Saoto Bathok Mbah Katro hanya sekitar 50 meter disebelah utaranya. Dari kejauhan sudah tampak keramaian warung tersebut yang penuh dengan parkir kendaraan roda dua hingga roda empat.

Ini dia harga saoto mbah Katro:

Soto Daging Sapi : Rp 5.000,-
Seporsi Gorengan : Rp 2.500,-
Es Teh : Rp 1.500,-

Wow dahsyat banget murahnya, yuk meluncur ke TKP. Salam wisata kuliner Jogja!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>