«

»

MALIOBORO: The Most Romantic Street in Java

 

Malioboro pada tahun 1935 Sumber: http://media-kitlv.nl

Malioboro pada tahun 1935
Sumber: http://media-kitlv.nl

 

Larik lagu “Jogjakarta” yang dilantunkan sangat indah oleh Katon Bagaskara dengan Kla Project-nya seolah menyihir kita untuk kembali menikmati suasana Jogja dan sebuah jalan paling romantis di kota ini. Malioboro adalah kenangan yang tak akan pernah mampu dilupakan oleh para pengunjungnya. Deretan kaki lima yang menjajakan batik dan kerajinan etnik, para pejalan kaki yang tak lelah berdesak desakan, kusir andong yang ramah menawarkan jasanya berkeliling Jogja, dan wisata kuliner Jogja-nya, melengkapi wisata Anda di Jogja Kota Budaya ini.

SEJARAH MALIOBORO

Malioboro memang penuh pesona. Banyak kisah yang menyebutkan dengan berbagai versi yang merujuk asal usul nama Malioboro.
(1) Bermula dari bahasa Sansekerta yang menjelaskan Malioboro berarti “Karangan Bunga” karena kebiasaan keluarga Keraton Jogja jika mengadakan hajatan besar akan memenuhi Jalan Malioboro dengan bunga.

(2) Selain itu, asal mula kata Malioboro bisa ditarik mundur dari nama seorang kolonial “Marlborough” yang pernah tinggal di Tanah Mataram 1811 – 1816.

(3) Malioboro dulu dikenal sebagai kawasan perdagangan yang kebanyakan menjual bebungaan yang menarik minat banyak orang untuk bertandang dan membelinya.malioboro

 

MALIOBORO = JAWA + TIONGHOA + BELANDA

Budaya yang berkembang di Malioboro amat unik karena menggabungkan Jawa, Beldanda, dan Tionghoa. Kawasan ini awalnya merupakan gagasan Sultan Hamengku Buwono I yang hendak membuka suatu tempat berlangsungnya transaksi jual beli yang menggerakkan seluruh potensi masyarakat. Pada 1755, Sultan mengangkat Kapiten Tan Jin Sing, berdarah Tionghoa, yang bernama Jawa Setjodingrat, untuk mengembangkan Kawasan Malioboro.

Perkembangan Malioboro setelah Pasar Gedhe, Beringharjo kini, yang beroperasi sejak 1926. Kawasan yang arsiteknya merupakan gabungan antara tiga budaya ini meluas pengaruhnya sampai arah Utara hingga Tugu Pal Putih. Sampai kini bisa dilihat jika Malioboro memberikan dampak positip bagi warga Jogja.

KULINER JOGJA di MALIOBORO

Santap Mania bisa merasakan aroma kental budaya Jogja saat malam hari ketika warung lesehan mulai buka seperti gudeg, burung dara, dan aneka wisata kuliner lainnya yang mantap. Iringan pengamen yang sopan menambah Malioboro semakin masuk ke sanubari.

Malioboro adalah daftar wajib tempat wisata yang harus Anda kunjungi. Ceritakan pada seluruh anggota keluarga Anda jika Malioboro dengan wisata belanja dan wisata kuliner akan memuaskan Anda.

Salam wisata dan santap kuliner Jogja!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>